Indonesia termasuk negara yang paradoksal (berlawanan asas).  Terdiri atas 17.480 pulau, memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia dengan 95.181 km dan potensi laut seluas 5,8 juta km2 (75%) dengan daratan 1,9 juta km2 (25%), namun arah pembangunan dan pengembangannya masih berorientasi ke darat. Kehidupan nelayan pun hingga kini tetap terlilit kemiskinan.
‘’Bahkan sekarang, risiko bisnis yang mengandalkan sumber daya laut itu tinggi, ’’ kata Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas Prof.Dr.Ir.Andi Niartiningsih, MP dalam orasinya di depan peserta Sekolah Staf Komando Angkatan Laut (Sesko AL)  di Kampus Unhas, Kamis (24/5).Rombongan yang dipimpin Direktur Pendidikan Sesko AL Kolonel Laut Didin Zainal Abidin, S.Sos, M.M. berjumlah 56 orang. Di antara mereka terdapat utusan dari Malaysia, Australia, Amerika Serikat, Filipina, dan China.
Sebagai negara dengan wilayah perairan terluas, mestinya megarahkan pembangunannya ke laut dan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dengan memanfaatkan potensi sumber daya laut secara arif dan bijaksana. Indonesia hingga kini masih berorientasi ke darat, padahal mestinya ke laut. Malah kini, kata Andi Niartiningsih, laut kerap menjadi sumber pembuangan limbah dari darat. Belum lagi limbah dari laut itu sendiri yang bersumber dari polutan yang berakibat terjadinya degradasi ekosistem laut.
‘’Hal-hal inilah yang sering membuat para nelayan tidak mampu meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Kita belum bijak mengelola sumber daya laut,’’ guru besar kelahiran Sinjai tersebut menambahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDBahasa Indonesia