Ekosistem terumbu karang di berbagai belahan dunia seperti Great Barrier Reef Australia, Kepulauan Karibia dan Kawasan Segitiga Terumbu Karang Dunia mengalami penurunan. Diantara penyebabnya adalah karena perubahan iklim, pencemaran lingkungan air laut yang menyebabkan semakin tingginya tingkat keasamaan. Demikian disampaikan Dr. James J Bell dari Victoria University of Welington dalam Acara Seminar on Marine Environment yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin pada Senin (24/3) di Ruang Sidang Lantai 2. Walaupun terjadi penutupan terumbu karang di berbagai wilayah, ada satu spesies yang bisa bertahan hidup dan jumlahnya semakin meningkat yaitu Sponge. Menurut James Sponge bisa bertahan dari perubahan lingkungan dikarenakan mempunyai kemampuan menyaring bahan-bahan berbahaya dari pencemaran air laut. “Sponge juga sangat penting untuk ekosistem laut karena kemampuannya menyaring air laut agar tetap terjaga kualitasnya. Selain itu, berdasarkan penelitian jenis sponge tidak jauh dalam menyebarkan larvanya. Hal ini terbukti di sponge yang ada dalam suatu lokasi memiliki kesamaan,” pungkasnya. Selain membahas terumbu karang, dalam seminar ini juga membahas bagaimana sukses membangun hutan mangrove di wilayah pesisir serta meningkatnya pembangunan daerah di berbagai bidang, keberadaan sumber daya alam mengalami eksploitasi untuk memenuhi kebutuhan manusia. “Kondisi ini berimbas pada keberadaan hutan mangrove yang semakin mengkhawatirkan. Di sisi lain, saat ini kesadaran masyarakat untuk menyelamatkan dan melestarikan hutan mangrove semakin meningkat,” ungkapnya. “Perawatan meliputi pembersihan sampah yang menempel, pemberantasan hama penyakit dan penyulaman mengikat kembali tali rafia yang lepas. Untuk pencapaian hasil yang maksimal lamanya perawatan dan pemantauan dilakukan minimal satu tahun, “ pungkasnya.