Penyuluhan Penerapan Perubahan Ukuran Mata Jaring Dalam Penangkapan Ikan Terbang Secara Berkelanjutan Di Kecamatan Sendana, Kab. Majene

Screenshot_27aKegiatan penyuluhan di Somba Kec Sendana Majene pada tanggal 14 Juli 2017. Peserta kegiatan sebanyak 22 orang yang terdiri dari kelompok nelayan Bi’ar dan partisipan nelayan lainnya serta melibatkan 4 orang mahasiswa prodi PSP.  Ada 3 orang pemateri yaitu Prof. Ir. Najamuddin, M.Sc., Dr. Ir. Andi Assir, M.Sc dan Ir. Mahfud Palo, M.Si.

Materi I disampaikan oleh Ir. Mahfud Palo, M.Si  dengan topik Penangkapan ikan terbang berkelanjutan. Pada materi ini dijelaskan kondisi perikanan ikan terbang di lokasi penyuluhan dan bagaimana kondisinya dari dulu sampai sekarang. Ada kecenderungan bahwa sumberdaya ikan terbang ukurannya semakin kecil, jumlah ikan hasil tangkapan semakin berkurang dan daerah penangkapan semakin jauh dari pantai.  Kondisi ini terjadi Karena nelayan tidak memperhatikan ukuran mata jarring yang seharusnya digunakan.  Nelayan hanya berfikir bagaimana caranya supaya ikan yang diperoleh jumlahnya tetap banyak.  Untuk mempertahankan supaya ikan tetap banyak maka seharusnya kita menggunakan matajaring yang membuat ikan yang tertangkap hanya ikan yang sudah pernah bertelur. Selain itu, telurnya semestinya tidak boleh diambil, supaya dapat menghasilkan kembali ikan-ikan kecil.

Materi ke 2 Dr. Ir. Andi Assir Marimba, M.Sc dengan Judul Manajemen daerah penangkapan ikan terbang. Daerah penangkapan merupakan tempat dimana nelayan melakukan penangkapan ikan. Untuk dapat menangkap ikan yang tetap banyak diperlukan pengelolaan daerah penangkapan. Pergerakan ikan di laut memiliki pola tertentu dan kalua itu diketahui maka nelayan tidak akan sulit mendapatkan ikan.

Materi ke 3 oleh Prof.Dr.Ir. Najamuddin, M.Sc. dengan judul Manajemen kelompok. Urgensi pembentukan kelompok adalah menumbuhkan kembali jiwa gotong royong yang akhir-akhir ini cenderung semakin terkikis. Kebersamaan melalui gotong royong merupakan ciri khas bangsa Indonesia sejak dulu kala, terutama di daerah pedesaan. Untuk mengembalikan jiwa kebersamaan tersebut maka pemerintah hanya memberikan bantuan kepada kelompok masyarakat, tidak ada yang sifatnya perorangan. Permasalah yang terjadi, dimana sebahagian besar kelompok yang ada tidak dibentuk atas prinsip kebersamaan, melainkan atas dasar untuk mendapatkan bantuan. Akibatnya, bantuan yang dikucurkan pemerintah saat ini belum berjalan sebagaimana target dasarnya. Oleh Karena itu, masyarakat harus menyadari kondisi ini dan berusaha memperbaikinya.

Diskusi

Ada beberapa nelayan mengajukan pertanyaan terkait penerapan aturan di lapangan dan penyaluran bantuan. Pada prinsipnya nelayan memahami dan menyadari kondisi berkurangnya ikan di laut. Permasalah yang dihadapi di lapangan bahwa nelayan pengumpul telur ikan terbang tidak berasal dari lokasi penyuluhan, melainkan dari daerah Polewali dan tidak mungkin melakukan pelarangan. Kelihatannya pihak terkait perlu turun tangan untuk melakukan pengaturan dan pengawasan sehingga sumberdaya ikan terbang tetap berkelanjutan. Selanjutnya terkait dengan proses mendapatkan bantuan dari DKP, ada kecenderungan masih banyak ketimpangan dalam prosesnya sehingga disarankan bahwa masyarakat secara berkelompok seharusnya menjalin komunikasi yang baik dengan DKP melalui tenaga penyuluh lapangan.

Nelayan menyadari kondisi sumberdaya perikanan ikan terbang yang semakin menurun dan bersedia mengikuti program pemerintah sepanjang pemerintah juga memperhatikan masyarakat nelayan.

Kegiatan selanjutnya penyerahan bahan jarring 1,5 inci untuk dikonstruksi nelayan kemudian dioperasikan di laut. Data hasil tangkapan nelayan dengan mata jarring 1,5 inci akan dimonitor dan dievalusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *