Tim Peneliti FIKP Unhas Temukan Puluhan Ikan Dibius di Kapoposang

Tim peneliti dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin (Unhas) ketika melakukan survei di kawasan konservasi Taman Wisata Perairan (TWP) Kepulauan Kapoposang menemukan ratusan ikan mati di dekat Pulau Kondong Bali, Senin (3/10/2016) lalu.

Yang membuat miris para peneliti tersebut adalah ikan-ikan yang ditengarai baru saja telah dibius dengan potassium sianida itu ukurannya masih sangat kecil.

“Kita tentu sangat prihatin dengan adanya kejadian tersebut, terjadi langsung di depan mata kami ini. Tega-teganya anak ikan seperti itu dibius,” kata tim peneliti terumbu karang FIKP Unhas, Dr Syafyudin Yusuf kepada tribun timur.com, Selasa (4/10/2016).

Saat kejadian dosen Ilmu Kelautan Unhas tersebut sempat mengumpulkan empat kantong plastik sebagai barang bukti dan untuk di analisis di laboratorium.

Menurutnya, sisa ikan seukuran kelingking dan jempol itu masih sangat banyak melayang-layang di dalam air yang tidak sempat dipungut karena bergegas pulang.

“Kami khawatir, karena sudah ada perahu nelayan yang mendatangi perahu peneliti dan menanyakan siapa yang menyelam. Siapa tahu mereka membawa bom juga dan nekat membom kami yang masih ada di dalam air,” ungkap Syafyudin

Tim peneliti FIKP Unhas yang melakukan survei di TWPKapoposang untuk pengembangan ekowisata bahari kawasan konservasi di Kabupaten Pangkep tersebut membawa 8 orang peneliti dan 15 orang asisten peneliti, Puluhan staf dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang.

Sementara Ahli Ekowisata Bahari Unhas, Dr Ahmad Bahar MSi berharap selain tindakan represif untuk mengamankan kawasan konservasi juga masyarakat lokal perlu diberikan mata pencaharian alternatif (MPA).

Menurutnya, salah satu MPA yang dapat dikembangkan di kawasan konservasi adalah dengan mengembangkan ekowisata bahari di kawasan konservasi laut.

“Pengembangan ekowisata itu tidak mengekstraksi sumberdaya untuk mendatangkan uang, tetapi cukup dengan memelihara keaslian kawasan. Semakin alami, apalagi jika memiliki kekhasan dan keunikan sumberdaya laut, tentu akan memiliki nilai yang tinggi juga untuk dijadikan destinasi ekowisata,” jelas Ahmad Bahar.

Menurut Dosen Ilmu Kelautan Unhas ini, ekowisata bahari di TWP Kapoposang dapat dikembangkan dengan menarget tiga kategori wisatawan, yakni dari kalangan atas, menengah, bawah.

“Fasilitas yang ada di Kapoposang dapat di promosikan ke pasar wisatawan sesuai dengan target pasar masing-masing. Di resort itu ada peminatnya, Cottage juga ada pasarnya, yang di Homestay juga ada. Semunya harus dikembangkan. Jangan hanya Resort. Kasian masyarakat lokal,” katanya. (*)

sumber : tribun timur

Pin on PinterestDigg thisShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedInShare on TumblrShare on RedditEmail this to someonePrint this page

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*